tentang petualangan hidup

Blog EntryKetika Dunia Tanpa PetaniJan 31, '08 12:01 AM
for everyone
Pernahkan terbesit dalam pikiran kita jika di dunia ini tidak ada petani? Kita makan apa ya? Orang yang menurut saya paling berjasa dibandingkan jenis pekerjaan yang lain agaknya dari tahun ke tahun semakin menurun jumlahnya. Coba kita renungkan, adakah diantara kita yang pada saat kecil bercita cita sebagai Petani ? Saya berani menjamin bahwa tidak ada diantara kita yang punya pikiran ke arah sana. Ingin menjadi pilot, dokter, tentara dll adalah menjadi pilihan utama.

Apa yang melatarbelakangi hal itu? Ya, kesejahteraan. Kesejahteraan petani dipandang sebagai sesuatu yang sangat lemah sekali, serba kekurangan dan sejenisnya. Sudah kerjanya harus keras dan kotor-kotoran, uang yang dihasilkan tidak seberapa. Coba bayangkan saja oleh kita. Menanam singkong (ubi batang), paling tidak memerlukan waktu sekitar 6 bulan hingga pemanenan. Setelah itu, petani menjualnya ke pabrik pengolahan tapioka terdekat, yang saya pikir masih dimonopoli oleh perusahaan perusahaan tertentu dimana harga dipatok oleh pabrik. Petani tidak berdaya dan serba salah. Hasil uangnya tidak seberapa. Kalau saya hitung gitung waktu itu, dari 1 hektar ladang yang ditanami singkong, setelah dipotong modal petani hanya kebagian "gaji" sekitar 200-300 ribu rupiah saja perbulan. Bayangkan, bagimana dengan jumlah tersebut seorang kepala keluarga bisa membiayai anak anaknya untuk makan dan sekolah? Itu saya alami sendiri, karena keluarga kami adalah keluarga petani. Masih ingat dibenak saya ketika kanak kanak, almarhum ayah saya mengajari bagaimana teknik tenik pertanian yang baik. Bagaimana caranya penanggulangan hama, penyakit, pemupukan, penyiangan dan pemanenan. Pemanenan adalah hal yang paling ditunggu tunggu oleh petani. Senyuman dan gurauan kala memanen antara tetangga satu dengan lainnya dapat dijumpai saat itu. Beliau selalu mengatakan kepada saya, bahwa dengan bertani akan melatih kita hidup jujur, dan tawakal, karena kita hanya menanamnya dan atas seizin Allah lah tanaman tersebut akan tumbuh dan berbuah.

Pernah, kalau tidak salah sekitar 1984, Indonesia pernah menerima penghargaan dari FAO, badan PBB yang menangani masalah pangan, karena kita mampu menjadi negara yang swasembada beras. Kita tidak tahu kapan itu akan terulang kembali. Lahan pertanian lama lama mulai sirna dengan pembangunan industri industri, perkantoran dan perumahan. Jika sektor pertanian tidak diperhatikan, apa dampaknya? Ya kita tinggal menunggu waktu untuk tidak makan beras atau jagung atau singkong dan kawan kawannya.

Sebelum itu terjadi, harusnya pemerintah bisa bertindak bijak. Sektor ini harus diperhatikan. Keluhan petani yang antara lain, kelangkaan dan mahalnya harga pupuk, mahalnya bibit unggul, serta rendahnya penerimaan pasar terhadap barang barang pertanian, harus bisa dipecahkan oleh pemerintah.

Insya allah suatu saat saya akan dan ingin menjadi petani..


onit wrote on Jan 31
iyah, kapan ya petani2 indo bisa sejahtera sperti petani2 eropa..
baud wrote on Jan 31
Kurang diperhatikan? Masih untung ada Departemen Pertanian... (masih untung ada bokap gua... ㅋㅋㅋㅋㅋ).
Hahaha... barusan tadi malam diobrolin masalah Menteri Pertanian kita yang dosen itu. Gimana seandainya menteri pertanian itu pengusaha agrobisnis kayak Oom Bob ya.... Moga-moga petani bisa sekaya pengusaha.... Hehehe....
chairulhudaya wrote on Jan 31
Iya mas baud, yang harus diperhatikan salah satunya ya harus si petani itu sendiri sebagai subjek. Karena mereka lah yang mengerjakan semuanya, bukan si menteri atau pejabat departemen pertanian :-), mana mau mereka kotor kotoran :-P
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help